Adakah Kewajiban untuk Membentuk kepemimpinan Guna Menyebarkan Dakwah Islam?

Tinggal satu masalah lagi, yaitu: apakah di dalam syariat Islam ada perintah untuk menyelenggarakan kepemimpinan atau pemerintahan guna melaksanakan misi penyebaran Dinul Islam ke seluruh penjuru dunia? Jawabnya ya.

Islam menjadikan negara yang dipimpin oleh seorang imam sebagai lembaga yang melaksanakan misi dakwah ke negeri-negeri yang belum memeluk Islam dan belum hidup di dalam pengaturan syariat Islam. Metode yang disyariatkan Islam untuk melaksanakan itu adalah dakwah dan jihad.

Negeri-negeri yang belum memeluk Islam sebisa mungkin didakwahi dengan berbagai sarana yang ada untuk menciptakan opini umum tentang Islam, tentang hukum Islam dan tentang pemerintahan Islam. Kemudian, pada kesempatan tertentu, imam akan mengirim seruan kepada mereka untuk memeluk Islam dan bergabung dalam kesatuan politik kaum muslimin. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mengirim surat kepada para penguasa seperti Kaisar di Romawi dan Kisra di Persia. Jika mereka menolak masuk Islam, maka dalam kondisi yang telah siap, imam akan mengirim pasukan ke wilayah tersebut. Pasukkan tersebut akan mengulang seruan agar mereka mau masuk Islam. Jika mereka masih menolak untuk masuk Islam, maka tidak mengapa, namun mereka tetap diminta untuk tunduk kepada pemerintahan dan tunduk kepada hukum Islam seraya membayar jizyah. Dengan ketundukkan mereka itu, negera Islam akan melindungi mereka dan memberikan hak-hak kewarganegaraan bagi mereka. Status mereka saat itu akan menjadi ahludz dzimmah atau kafir dzimmi. Jika dua pilihan tersebut mereka tolak, maka imam akan menggelar perang untuk mereka.

Perlu dicatat bahwa perang ini bukan untuk memaksa mereka masuk Islam, karena tidak ada paksaan dalam Islam. Perang ini sekedar bertujuan untuk menundukkan kekuatan mereka, melumpuhkan institusi politik mereka, melenyapkan penghalang yang merintangi dakwah dan melenyapkan dinding yang akan menghalangi penerapan syariah Islam bagi umat manusia yang hidup di negeri-negeri tersebut.

Metode di atas telah dilaksanakan oleh Rasulullah saw dan para khalifah sepeninggal beliau. Melalui metode seperti itu, seluruh Jazirah Arab, Tanah Syam, Tanah Mesir, Irak, Persia, Afrika Utama, dan Asia Tengah ditaklukkan dan digabungkan dalam kesatuan wilayah kaum muslimin. Sejak penaklukkan-penaklukkan yang sukses itulah penduduk di negeri-negeri tersebut -sampai hari ini- masih memeluk Islam.

Metode di atas dilaksanakan berdasarkan perintah Allah dan sunnah Rasulullah saw. Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 29:

{قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ} [التوبة: 29]

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak beragama dengan agama yang benar dari kalangan orang-orang yang telah diberi kitab, sampai mereka membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

Dalam sebuah hadits yang panjang, riwayat Muslim, antara lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. berpesan kepada para komandan:

“Jika engkau bertemu  musuhmu dari kaum musyrikin, ajaklah mereka kepada tiga hal. Bila mereka menerima salah satu dari ajakanmu itu, terimalah dan jangan apa-apakan mereka yaitu: ajaklah mereka memeluk agama Islam, jika mereka mau terimalah keislaman mereka; kemudian ajaklah mereka berpindah dari negeri mereka ke negeri kaum muhajirin, jika mereka menolak, katakanlah pada mereka bahwa mereka seperti orang-orang Arab Badui yang masuk Islam, mereka tidak akan memperoleh apa-apa dari harta rampasan perang dan fai’, kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin. Bila mereka menolak masuk Islam, mintalah mereka agar membayar jizyah. Jika mereka menyetujui, terimalah hal itu dari mereka. Lalu, bila mereka menolak, mintalah perlindungan kepada Allah dan perangilah mereka.”

Lantas apa kaitan antara jihad dan jizyah itu dengan kepemimpinan atau negara? Jawabnya, kaitannya amatlah jelas. Jihad seperti yang dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para shahabat itu tidak mungkin dilakukan kecuali dalam wadah negara yang dipimpin seorang imam. Demikian pula jizyah, ia tidak mungkin bisa ditarik dari orang-orang kafir kecuali umat Islam memiliki kekuatan dan kepemimpinan yang mendominasi mereka. Berangkat dari sini, para ulama menyatakan bahwa berjihad menyerang wilayah kufur itu merupakan fardhu kifayah yang secara praktis dijalankan oleh negara. Imam Al-Mawardi menyatakan bahwa salah satu tugas imam adalah:

“berjihad melawan mereka yang menolak Islam -setelah sebelumnya didakwahi hingga memeluk islam atau masuk dalam perlindungan (dzimmah) kaum muslimin- dalam rangka merealisasikan janji Allah untuk memenangkan Islam atas seluruh agama yang ada”.[1]

Bahkan, sebagian ulama yang  menetapkan batas waktu minimal bagi imam untuk melakukan dakwah dan jihad ke wilayah yang belum terislamkan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya (at-Taubah ayat 41) menyatakan:

“fardhu pula bagi al-imam untuk mengerahkan pasukan menuju musuh setiap tahun sekali. Dia bisa ikut bersama mereka atau mengirim orang yang dia percaya untuk menyeru musuh kepada Islam, menarik hati mereka, menyingkirkan penghalang-penghalang mereka, memenangkan agama Allah atas mereka, sampai mereka mau masuk ke dalam islam atau membayar jizyah dengan tangan mereka”.[2]

Dari sini dapat dipahami bahwa Islam memang mensyariatkan adanya negara atau kepemimpinan yang diberdayakan untuk mengemban misi penyebaran Islam ke berbagai wilayah di dunia ini. Maka terbuktilah keabsahan masalah yang ketiga. (habis)


[1] Al-Mawardi, op. cit., hal. 18

[2] Al-Qurthubi, al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an, Juz X (Beirut: Mu’assasah ar-Raisalah, 2006) h.224