Dalil Kewajiban Mendirikan Khilafah Tidak Ada?

Dalil Kewajiban Mendirikan Khilafah Tidak Ada?

الخلافةSering terlontar pertanyaan: “Mana nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang secara jelas menyebutkan tentang kewajiban mendirikan khilafah?”. Kemudian ketika mereka tidak menemukan jawaban berupa nash Al-Qur’an atau As-Sunnah yang secara literal / harfiyah menyebut kewajiban mendirikan khilafah, maka mereka kemudian menyimpulkan bahwa, “dalil kewajiban mendirikan khilafah itu tidak ada.”

Bantahan ringkas dari pertanyaan jebakan tersebut adalah seperti ini:

Benar, tidak ada dalil yang berbunyi, misalnya: “كتبت عليكم الخلافة” (telah diwajibkan atas kalian khilafah). Yang ada adalah dalil-dalil yang mewajibkan kaum muslimin untuk:

  1. membentuk satu kepemimpinan bagi seluruh umat Islam di dunia
  2. mendirikan negara yang bertugas untuk menegakkan Syariah Islam
  3. mendirikan negara yang bertugas untuk menebarkan dakwah Islam  ke seluruh penjuru bumi.

Setelah itu anda tinggal memaparkan dalil-dalil syaa’ dari masing-masing poin di atas (Poin satu sudah kami bahas link tsbt, Insyaallah pembahasan seputar poin ke 2 dan ke 3 akan hadir di blog ini dalam waktu dekat).

Itulah yang diwajibkan oleh dalil-dalil syara’, yaitu adanya kepemimpinan atau pemerintahan bagi seluruh umat islam di dunia yang bertugas menegakkan Syariah Islam dan menebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru bumi. Soal namanya apa, itu bukan perkara yang mendasar, umat Islam boleh menamainya dengan sebutan apapun asal bukan istilah yang mengandung pemahaman yang bertentangan dengan Islam. Anda boleh menamainya dengan “Negara Islam” atau “Daulah Islamiyah”. Akan tetapi, secara konvensional, sejak zaman dahulu, negara ini telah biasa disebut dengan istilah khilafah atau kadang juga disebut Imamah.

Dengan demikian, kita tidak terjebak dengan langkah penanya yang cenderung ingin menyesatkan. Dengan menanyakan keberadaan lafadz khilafah di dalam nash, penanya sengaja membuat kita lupa akan apa yang sebenarnya dimaksud dengan istilah khilafah itu sendiri. Itu karena ia ingin menggiring kepada kesimpulan bahwa kewajiban mendirikan khilafah itu tidak didukung oleh dalil syara’ yang jelas.

Padahal sebenarnya, seandainya benar tidak ada satu nash syara’ pun yang secara literal menyebutkan wajibnya khilafah, bukan berarti bahwa konsep yang terkandung di dalam kata khilafah itu tidak memiliki dalil. Karena, adakalanya dalil-dalil syara’ itu mengandung suatu konsep, akan tetapi konsep tersebut masih terserak dan belum dikemas dengan istilah tertentu oleh nash-nash syara’.

Sebagai contoh: coba kita cari, apakah ada nash syara’ yang menyebutkan hukum bernama rukun-rukun shalat (arkanush shalah)? Tidak ada kan? Lantas dari mana para ulama mengatakan wajibnya memenuhi rukun-rukun shalat? Dari mana pula Syafi’iyyah mengatakan bahwa rukun shalat ada 13, Malikiyah menyatakan rukun shalat ada 14, sementara Hanbaliyah menyatakan rukun shalat ada 16? Jika tidak ada nash yang menyebut istilah rukun-rukun shalat maka apakah kemudian kita berani mengatakan bahwa ia merupakan bid’ah yang diada-adakan oleh para ulama?? Tentu tidakkan?..

Sejak hukum shalat diturunkan, rukun-rukun shalat itu sebenarnya sudah ada, yaitu perkara-perkara dalam shalat yang apabila ditinggalkan maka shalat menjadi batal atau dianggap tidak terlaksana, seperti niat: takbiratul ihram, membaca al-Fatihah dst. Hanya saja, pada awalnya, belum ada yang menamai perkara-perkara tersebut dengan istilah “rukun-rukun shalat”. Para ulama-lah yang menamainya dengan istilah “rukun-rukun shalat”. Jadi, fakta hukum sudah ada sejak dahulu akan tetapi namanya baru mapan belakangan.

Demikian ppula dengan istilah khilafah. Faktanya, khilafah adalah pemerintahan bagi umat islam di seluruh dunia yang bertugas untuk menegakkan syariat Islam dan menyebarkan dakwah islam ke seluruh penjuru dunia. Itulah khilafah. Konsep itu sejak lama ada, bukan inovasi baru. Bahkan konsep itu dijalankan oleh Rasulullah saw, hanya saja pemerintahan beliau tidak disebut khilafah, karena khilafah berfungsi sebagai pengganti peran belliau sebagai pemimpin.  (Titok Priastomo, 10/12/12)