Stand-up Dakwah ( Tema: Khilafah )

Khilafah-phobia. Ada pengalaman unik. Seorang teman menyatakan kepada saya: “mewajibkan khilafah itu bid’ah, karena Al-Qur’an tidak mewajibkannya, Rasulullah ‘alaihish-sholatu was-salam juga tidak mewajibkannya, jangan mengada-adakan hal baru dalam agama”.

Saya jawab dengan mengatakan: “Menurut saya, wajib bagi umat Islam untuk  memiliki satu negara, satu orang pemimpin/imam, negara yang berdasarkan Islam, negara yang memerintah berdasarkan Qur’an dan sunnah, negara yang menerapkan syariat islam atas seluruh warganya, negara yang mengemban penyebaran Islam lewat politik dakwah dan jihad.”

Di luar dugaan saya, ternyata dia setuju dengan apa yang saya katakan itu. Maka segera saya menyahut:  “nah, negara itulah yang disebut khilafah.”

………….

Khilafah Secara etimologis. khilafah berangkat dari kata kerja khalafa. khalafa berarti mengambil-alih kedudukan orang (fi’l). sementara Khalifah adalah orang yang mengambil-alih kedudukan orang lain (ism fa’il, berwazan fa’iil). Adapun khilafah, maknanya adalah suksesi, atau pengambil-alihan kedudukan orang yang sudah pergi (mashdar).

Al-Khilafah sebenarnya merupakan kependekkan dari Khilafah ‘an Rasulillah, yaitu pengambil-alihan kedudukan Rasulullah sholawatullah wa salaamuHu ‘alaih. Maksudnya bukan pengambil-alihan kedudukan beliau sebagai rasul, melainkan pengambil-alihan kedudukan beliau sebagai pemimpin, yang mengerjakan berbagai kewajiban yang tak dapat ditanggung umat Islam secara perorangan, seperti mengatur urusan umat, menegakkan syariah ditengah manusia, menjaga dan menyebarkan diinullah lewat dakwah dan jihad/futuhat.

Oleh karena itu, Syariat Islam tidak tegak secara sempurna kalau tidak ada pengambil-alihan peran yang dulu dijalankan oleh Rasulullah saw selaku pemimpin tersebut. Maka tak salah kalau dikatakan: “tak tegak syariah secara sempurna tanpa khilafah (pengambil-alihan tugas Rasulullah selaku pemimpin)”. Jika ada rumah yang salah satu tiangnya patah, maka tak salah kalau dikatakan: “rumah ini tak bisa berdiri tegak tanpa tiang pengganti”.

……..

Khilafah = Makar? Ada orang yang secara emosional menyatakan bahwa gerakan yang mendakwahkan penegakan Khilafah di Indonesia itu harus dihentikan, alasannya karena tegolong “MAKAR” dan meruntuhkan “empat pilar kebangsaan”.

Kalau dipikir-pikir, bukankah sikap seperti itu ganjil? apalagi kalau dia seorang muslim.

Bukankah menyerukan penegakan khilafah itu berarti menyerukan agar Islam dijadikan sebagai asas negara? Agar hukum yang diterapkan diganti menjadi hukum islam yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah? Agar Syariat Islam diterapkan dalam kehidupan bernegara? Agar negeri-negeri islam di dunia ini disatukan dalam satu kepemimpinan? Agar dakwah ke dalam dan ke luar dilakukan oleh negara?

Lantas orang macam apa yang merasa terusik dan tidak suka dengan seruan-seruan ini?? Orang macam apa yang menganggap seruan-seruan ini sebagai makar yang mengancam dirinya?? Orang macam apa yang menentang seruan asas islam dalam negara?? Orang seperti apa yang merasa sayang jika hukum-hukum buatan manusia diganti dengan hukum-hukum yg digali dari Qur’an dan sunnah?? orang macam apa yang merasa tidak suka jika negerinya disatukan dengan negeri-negeri Islam yang lain dalam satu kepemimpinan seorang imam?? Orang macam apa mereka itu??

Saya sendiri mencoba menghitung-hitung, kemungkinannya mereka itu ada tiga macam:  mereka adalah orang kafir yang benci kepada Islam, atau orang munafik yang benci Islam; atau orang jahil yang sangat awam terhadap Islam sehingga masih perlu dipahamkan. Jenis ketiga inilah yang banyak kita temui.

…………

Aqidah dan khilafah. Ada yang mengatakan: “umat belum butuh apa pun selain aqidah. Jika aqidah mereka sudah kuat, insyaallah khilafah akan tegak, tak perlu fokus kepada dakwah tentang khilafah”

Komentar saya: “ya, aqidah merupakan fondasi. Siapa yang telah beraqidah Islam tanpa mencampurinya dengan kesyirikan, insyaallah dia akan menikmati indahnya surga. Tapi, saya banyak menemukan orang yang beraqidah islam dengan baik, tidak menyekutukan Allah, ibadahnya baik, akhlaqnya baik, namun mendengar kata khilafah saja mereka belum pernah, lantas bagaimana mungkin mereka akan menegakkan khilafah kalau tidak ada perhatian untuk mengenalkan khilafah dan kewajiban khilafah kepada mereka yang telah beraqidah itu?? Padahal, tanpa khilafah banyak hukum-hukum Islam yang tak dapat teraplikasikan”

………….

Khilafah dalam Diskriminasi Hukum Syara’. Hemm Cukup mengherankan, kalau kita bicara tentang wajibnya penegakkan syariat Islam secara total dalam kehidupan bernegara selalu saja ada yang menasehati : “stop, aqidah dulu saja mas!”. Tapi, kalau ada orang yang bersemangat menyampaikan wajibnya sholat, zakat, puasa, haji, menutup aurat, dll di tengah umat kok tidak pernah ada yang menyela dan menasehati ” sssttt, jangan tergesa, sampaikan aqidah dahulu mas!!”. Padahal, yang atas dan yang bawah sama-sama masalah syariat, bukan aqidah.

soal “aqidah dahulu” itu sudah jelas, tak perlu diperdebatkan. Tapi masak iya kita tidak boleh menggugah kesadaran kaum muslim akan wajib dan pentingnya khilafah? Masak tidak boleh mengajak orang-orang yang sudah beraqidah Islam untuk beranjak kepada masalah lain yang merupakan konsekuensi dari keberadaan aqidah itu dalam jiwa kita, yakni berjuang menegakkan syari’ah Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dalam frame khilafah??

………

Harus ada waktu untuk memulai. Dalam sesi tanya jawab dalam SPI GP di UIN Suka 2012, ada penanggap yang berkata: “Banyak masalah umat yang perlu segera diselesaikan, sementara usaha mendirikan khilafah itu memakan waktu lama, maka jika kita selalu menitikberatkan pada khilafah, bukankah masalah-masalah itu menjadi tidak segera terselesaikan??”

Lalu saya bertanya kepadanya : “usaha mendirikan khilafah itu lama?, kira-kira menurut anda memakan waktu berapa tahun, mas?”

Dia menjawab : “mungkin saja 100 tahun, atau 200 tahun”

Tanggapan saya : “100 tahun atau 200 tahun dihitung sejak kapan?”

Jawabnya : “sejak pertama kali diusahakan”

Tanggapan Saya: “Lantas Bagaimana kalau tidak pernah ada orang yang mau memulai langkah pertama untuk berusaha secara serius mendirikan khilafah, bukankah itu berarti khilafah tidak akan pernah tegak meski 100 atau 200 tahun lagi??”

Pioner sejati mampu menatap tantangan, dan semoga Allah memberi pahala, rahmat dan ampunan bagi hambaNya yang telah merintis langkah pertama dalam usaha berat dan panjang ini (menegakkan khilafah)

…………..

Khilafah dan Iradah Syar’iyyah. Boleh saja berpendapat bahwa khilafah akan tegak pada zaman Imam Mahdi… Tapi jangan mengatakan bahwa khilafah hanya kewajiban yg dipikul oleh Imam Mahdi.. sebab, kewajiban khilafah merupakan kewajiban dalam Islam yang ditanggung oleh seluruh umat Islam di setiap zaman. Harus dibedakan antara kewajiban syar’i yang menjadi beban kita -disatu sisi- dengan kejadian masa depan yang menjadi urusan Allah -di sisi yang lain.

Ketahuilah, bahwa tertaklukkannya konstantinople di tangan Muhammad Al Fatih, rusaknya khilafah ditangan raja lalim, diruntuhkannya khilafah oleh penguasa diktator yang ternyata adalah Ataturk, merupakan irodah kauniyyah, kehendak Allah atas dunia ini, bukan hukum syara’, dan tidak berpengaruh pada hukum syara’ (fiqh).

Sedangkan wajibnya mempertahankan kelurusan khilafah ketika ada yang hendak membengkokkannya, wajibnya membela khilafah ketika hendak ada yang menruntuhkannya, dan wajibnya mengembalikan khilafah ketika ada yang berhasil meruntuhkannya, maka ia semua merupakan iradah syar’iyyah, kehendak hukum dari Allah yang dia amanahkan kepada kita manusia.

Maka, meski Dia mentaqdirkan khilafah runtuh, hukum syara’ yang berlaku adalah: umat islam wajib terus mempertahankannya. Meski seandainya benar bahwa Dia mentaqdirkan Al-Mahdi yang akan berhasil mendirikan khilafah, tapi kewajiban mendirikan khilafah kembali itu tertanggung di pundak setiap muslim dan haram meninggalkannya; sebagaimana kenyataan masa lalu, meski pun Dia berkehendak bahwa Muhammad Al-Fatih-lah penakluk konstantinopel, namun jihad untuk menaklukkannya tertanggung oleh umat Islam semuanya, karena itulah sejak masa Mu’awiyyah usaha itu terus dilakukan.

……….

Khilafah Warisan Nabi. Mengapa saja katakan khilafah warisan rasulullah saw bukan sekedar kreasi zaman shohabat.,?

:. Karena, khilafah itu pertamakali digunakan untuk menyebut pemerintahan yang dijalankan oleh Abu Bakar ash-shiddiq ra.

:. karena pemerintahan yang dijalankan oleh Abu BAkar itu tidak lain adalah pemerintahan yang ditinggal wafat oleh Rasulullah saw..

:. Karena negara yang dipimpin oleh Abu Bakar itutidak lain adalah negara yang sebelumnya dikepalai oleh Rasulullah saw..

:. Karena tugas-tugas yang dijalankan oleh Abu Bakar tidak lain adalah tugas-tugas yang dahulunya dijalankan oleh rasulullah saw..

Karena semua itulah Abu Bakar ra kemudian disebut sebagai khalifatu rasulillah (pengganti rasulullah saw), karena beliau menggantikan rasulullah saw dalam memimpin negara yang beliau tinggalkan.. dan karena itulah kepemimpinan Abu Bakar lalu disebut khilafah (penggantian).. jadi, khilafah sebenarnya sebutan bagi negara yang telah ditinggalkan oleh rasulullah saw. Dan kita jangan bermain kata-kata, bahwa di zaman rasulullaah saw tidak ada negara yang disebut khilafah.

…………

Orang Sholeh Salah Jalur. Setelah khilafah runtuh, orang-orang sholeh saat ini yang hidup dalam masyarakat tanpa khilafah seperti sekelompok orang baik di dalam kereta yang salah jalur. Kehidupan personalnya mungkin tidak ada masalah, amalan-amalan individual mereka mungkin banyak menuai pahala, tapi dalam ranah kehidupan sosial mereka hidup dan terbawa arus masyarakat yang berjalan tanpa berpijak di atas rel Islam. Kehidupan pribadinya mungkin mereka atur secara islam, tapi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, mereka tidak diatur secara Islami.

Lantas, Ketika kita hidup terjebak dalam tatanan masyarakat yang tidak Islami, layaknya sekelompok orang dalam kereta yg tak berpijak di atas rel Islam, apakah kemudian kita semua berdosa dan masuk neraka???

Jawabnya:

Tentu saja dosa tidak jatuh kepada mereka yang tidak turut andil dalam “menciptakan dan menyuburkan” tantanan yang tidak Islami itu, kemudian mereka selalu berdakwah mengingatkan siapa saja akan tatanan yang salah tersebut dan ikut berusaha menggalang dukungan guna mengubah keadaan ke arah masyarakat Islam. Tapi, bagi mereka yang diam, tentu hukumnya seperti halnya orang yg mendiamkan kemunkaran yang tampak di depan matanya.

Tapi apakah mereka yang diam itu masuk neraka?

Jawabnya: Masuk neraka itu bukan semata karena satu/dua dosa, tapi karena agregat dosa seseorang yang lebih besar dari pahala yg dia kumpulkan. Dan hanya Allah yang menghakiminya, bukan kita.

#KumpulanStatus