Antara Sikap Mukmin dan Sikap Munafik Dalam Merujuk Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Munculnya persengketaan dan perselisihan di antara manusia adalah hal yang wajar. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari warna-warni kehidupan manusia itu sendiri. Namun jangan khawatir, Allah -yang mendesign kehidupan ini- telah memberikan ketentuan yang baku bagi kaum muslimin tatkala menghadapi persengketaan. Allah berfirman dalam Surat An Nisa’ ayat 59:

{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} [النساء: 59]

Artinya: “Maka jika kalian berselisih dalam masalah apapun maka kembalikanlah penyelesaiannya kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus kesudahannya.”

berhukum kepada syariahAyat ini menegaskan bahwa jika kita beriman kepada Allah dan hari akhir, maka kita harus menyelesaikan setiap masalah yang mencul di antara kita dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Artinya, Allah menuntut pembuktian keimanan melalui kesediaan kita untuk taat kepada apa yang Dia diputuskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini merupakan indikasi bahwa perintah untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah merupakan suatu hal yang wajib.

Maka dari itu, orang-orang yang benar-benar beriman, akan membuktikan keimanan mereka dengan sikap mau menerima segala keputusan Allah dan RasulNya dengan bulat. Mereka selalu siap mendengar dan mentaati keputusan Allah dan RasulNya. Sikap orang-orang mukmin (beriman) ketika menghadapi keputusan hukum dari Allah dan RasulNya dijelaskan oleh Allah dalam surat An Nur ayat 51:

{إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [النور: 51]

Artinya: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memberi keputusan (hukum) di antara mereka, tiada lain hanyalah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Demikianlah sikap orang-orang yang beriman, mereka hanya mengatakan “sami’naa wa atha’naa” (kami dengar dan kami taat) terhadap keputusan Allah dan RasulNya.

Sikap orang mukmin tersebut berkebalikan dengan sikap orang-orang munafik. Orang munafik, tatkala diajak untuk merujuk kepada Allah dan RasulNya dalam memutuskan berbagai perkara di antara mereka, maka mereka akan enggan, bahkan mereka akan menghalangi-halangi seruan tersebut, agar orang-orang tidak menghiraukan seruan untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah membeberkan sikap mereka dalam surat An Nisaa’ ayat 60 dan An Nisaa’ ayat 61:

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61)} [النساء: 60، 61]

Artinya:”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak merujuk kepada hakim selain Allah (thaghut), padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Namun syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada Allah (Al-qur’an) dan kepada Rasul (As-Sunnah)”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”

Demikianlah sikap orang-orang munafik, mereka mengaku beriman tapi enggan merujuk kepada hukum Allah. Bahkan mereka menghalang-halangi manusia agar mereka tidak taat kepada keputusan Allah dan RasulNya. Kita berlindung kepada Allah dari sikap yang demikian.