Hadits Cinta tanah air bagian dari iman adalah palsu

Hadits “Cinta tanah air” adalah palsu

Cinta tanah air sebagian dari iman (حب الوطن من الإيمان/ hubbul wathan minal iman), ungkapan ini sering disangka oleh kebanyakkan orang sebagai sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, tidak ada satu pun kitab hadits yang memuat ungkapan ini, baik dengan sanad yang shahih maupun yang dho’if. Tidak ada pula ahli hadits yang menganggap ungkapan ini sebagai ucapan Rasulullah saw.hubbul wathani minal iman Lajnah Daimah lil ifta’ fi biladil haramain ketika ditanya tentang ungkapan ini menyatakan, “kalimat yang anda sebutkan itu bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah perkataan yang tersebar lewat lisan masyarakat” (fatawa al-lajnah ad-daimah nomor 5729). Al-Albani di dalam Dho’iful Jami’ halaman 110 menyatakan bahwa bahwa hadits ini “maudhu’ (palsu).

Syaikh Utsaimin dalam Syarh Baiquniyah menyatakan: “Yang semisal ini adalah ungkapan “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) ungkapan ini dikenal luas di kalangan awam sebagai hadits shahih, padahal ia merupakan hadits maudhu’ makdzub (hadits palsu dan dusta). Lebih dari itu, maknanya juga tidak benar, karena cinta tanah air adalah bagian dari ta’ashub (fanatisme yang dilarang).”

Dalam Syarah Riyadhush-shalihin Syaikh ‘Utsaimin menyatakan:

“Disukai bagi umat Islam untuk melakukan jihad sekali dalam setahun, memerangi musuh-musuh Allah, untuk meninggikan “kalimatullah”, bukan sekedar untuk membela tanah-air demi cinta tanah-air itu sendiri, sebab membela tanah-air, semata-mata karena tanah-air, dilakukan baik oleh orang beriman maupun orang kafir. Apabila orang kafir membela tanah-airnya (semata karena tanah-air), maka kaum muslim justru melakukannya untuk mempertahankan agama, sehingga orang muslim akan membela negerinya bukan semata-mata demi negeri itu, namun karena negerinya itu merupakan negeri Islam maka dia membelanya demi menjaga eksistensi Islam. Oleh karena itu, wajib bagi kita yang hidup pada kondisi seperti sekarang ini untuk mengingatkan seluruh umat bahwa seruan untuk memerdekakan tanah-air dan yang semisalnya, merupakan ajakan yang tidak tepat. Wajib untuk memobilisasi umat dengan dorongan diniyah.  Wajib untuk mengatakan bahwa sesungguhnya kita sedang membela agama kita, sebab negeri kita merupakan negeri Islam yang membutuhkan perlindungan dan pertahanan, maka kita harus membelanya dengan niat tersebut. Jika membela negeri semata-mata demi tanah-air atau dengan semangat nasionalisme, maka yang demikian itu bisa terjadi pada seorang mukmin maupun kafir. Hal itu tidak akan memberi manfaat bagi pelakunya pada hari kiamat. Jika ia terbunuh dengan niat itu, maka ia tidak tergolong mati syahid, sebab, Rasulullah saw pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang dengan tamak dan penuh keberanian dengan niat agar dipandang kedudukannya, apakah itu termasuk fi sabilillah? Maka Beliau bersabda, “barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimatullah maka ia ada di jalan Allah”. Maka camkanlah batasan ini! Jika anda berperang semata-mata untuk negeri anda, maka anda tidak ada bedanya dengan orang kafir. Berperanglah untuk meninggikan kalimatullah yang tercermin di dalam negeri anda, karena negeri anda merupakan negeri Islam. Dalam kondisi seperti itu semoga perang tersebut menjadi perang fi sabilillah. Dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “tidaklah seorang pun yang terluka di jalan Allah –dan Allah lebih tahu siapa yang benar-benar terluka di jalanNya- kecuali dia akan datang pada hari kiamat dengan dengan lukanya yang mengalirkan darah. Warnanya warna darah, akan tetapi aromanya aroma misik”. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah saw menyatakan bahwa syahid bisa diraih dengan syarat seseorang harus berperang di jalan Allah. Maka, para penuntut ilmu harus menjelaskan hal ini, wallahul muwaffiq (Syarh Riyadhush shalihin, jilid 1 hal 27). (titok priastomo)