Hukum Mempelajari Ilmu Fiqih / fikih

Hukum Mempelajari Fiqih / fikih

Seluruh amal seorang muslim senantiasa diawasi oleh Allah, dan semuanya nanti akan dihisab dan dimintai pertanggunjawaban oleh Allah SWT. Maka dari itu, ia harus selalu terikat dengan hukum syara’ dalam segenap tindakkannya layaknya kreta api yang selalu berjalan di atas relnya. Di sinilah arti penting ilmu fiqh bagi setiap muslim, yakni ilmu yang membahas hukum-hukum syara’ yang terkait dengan seluruh amal perbuatan manusia.  Ilmu fiqh wajib dikuasai oleh setiap muslim yang ingin amalannya dinilai benar oleh Allah. Dari sinilah Syaikh Taqiyuddin menyatakan bahwa mempelajari fiqh adalah fardhu ‘ain jika terkait dengan perkara-perkara yang mesti dilakukan oleh seorang muslim, dan fardhu kifayah jika terkait dengan masalah-masalah umum. Berikut ini uraian yang disampaikan oleh Syaikh Taqiyyuddin terkait dengan masalah ini dalam kitab Asy Syakhshiyyah Al Islamiyyah juz yang kedua:

Mempelajari Fiqh

Mengenal hukum-hukum syara’ yang diperlukan oleh setiap muslim dalam kehidupannya sehari-hari merupakan kewajiban yang bersifat individual (fardhu ‘ain), sebab mereka diperintahkan untuk selalu melaksanakan aktivitasnya berdasarkan hukum-hukum syara’. Hal itu dikarenakan seruan pembebanan (khithob taklif) yang diserukan Asy Syari’ (Allah) kepada manusia dan kepada orang-orang yang beriman (untuk tunduk kepada Asy Syari’/Allah) bersifat memaksa, di dalamnya tidak ada pilihan sama sekali, baik dalam masalah keimanan atau pun dalam masalah amal perbuatan manusia. Maka dari itu, Firman Allah, yang artinya (berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya) [TQS An Nisaa’ 136] sama sebagaimana FirmanNya, yang artinya: (Padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba) [TQS Al Baqoroh 275], keduanya itu sama-sama termasuk seruan pembebanan (khothob taklif). Dan dia merupakan seruan yang berbentuk memaksa (untuk ditaati -pent), dilihat dari aspek keberadaannya sebagai suatu seruan (khitob) bukan dilihat dari jenis tuntutan yang diserukan kepada kita (apa wajib, sunah, atau yang lain -pent). Hal tersebut berdasarkan Firman Allah Ta’aalaa, yang artinya: (tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula bagi wanita yang beriman apabila Allah dan rasulNya telah memutuskan suatu perkara akan ada pilihan lain bagi mereka) [TQS Al Ahzab ayat 36], dan juga berdasarkan dalil adanya perhitungan amal (di hari akhir), Allah Ta’aalaa berfirman, yang artinya: (barang siapa yang mengamalkan suatu kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihatnya, dan barang siapa yang melakukan suatu keburukan seberat dzarrah, dia akan melihatnya) [TQS. Az Zalzalah], Allah berfirman, yang artinya: (hari dimana setiap jiwa menjumpai segala macam perbuatan baiknya, demikian juga dengan segala perbuatan buruknya, dia berharap agar antara dia dan hari itu terbentang jarak yang amat jauh, dan Allah memperingatkanmu terhadap diriNya) [TQS Ali ‘Imran ayat 29], dan Firman Allah, yang artinya: (dan setiap jiwa dicukupkan atas apa yang dia kerjakan) [TQS Al Mudatstsir ayat 38]. Maka dari itu, pembebanan itu datang dengan bentuk yang memaksa, sehingga seorang muslim itu dibebani dengan pembebanan yang bersifat memaksa untuk terikat dengan hukum-hukum syara’ ketika melaksanakan setiap amalnya. Adapun jenis pembebanan, atau sesuatu yang dibebankan oleh Allah -yang bisa berupa tuntutan pengerjaan, tuntutan untuk meninggalkan atau pun pilihan- itu kadang bersifat: wajib, sunnah, mubah, haram atau pun makruh. Adapun dari aspek pembebanannya sendiri (untuk terikat dengan hukum syara’-pent), maka ia bersifat memaksa, tidak ada pilihan, yang ada hanyalah kewajiban untuk terikat dengannya.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui hukum-hukum syara’ yang dibutuhkan dalam kehidupan (secara pribadi -pent). Adapun yang selebihnya (tidak diperlukan secara pribadi -pent), maka mengetahuinya merupakan fardhu kifayah, sehingga apabila sebagian telah melaksanakannya maka kewajiban itu gugur bagi yang lain. Hal demikian itu dikuatkan oleh apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “menuntut ilmu itu wajib bagi setipa muslim“, meskipun kata ilmu yang dimaksud di sini adalah segala macam ilmu yang dubutuhkan oleh muslim di dalam kehidupannya, namun fiqh termasuk di dalamnya, pasalnya ia adalah ilmu mengenai hukum-hukum yang dibutuhkan oleh setiap muslim dalam menjalankan hidup, berupa hukum-hukum ibadah, mu’amalah, dan lain sebagainya. Atas dasar itu, pendidikan fiqh merupakan salah satu perkara yang penting bagi kaum muslimin, bahkan ia merupakan hukum-hukum yang diwajibkan oleh Allah atas mereka (untuk dipelajari -pent), baik yang bersifat fardhu ‘ain mau pun yang fardhu kifayah. Terdapat hadits-hadits mulia yang memberi dorongan kuat untuk mempelajari fiqh, yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Rasulullaah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberi dorongan untuk mendalami fiqh. Al Bukhori telah meriwayatkan dari jalan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, berkata: Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “barang siapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan, maka dia akan difaqihkan di dalam agama”, dan dari Said bin Musayab dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam, “barang siapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan, maka dia akan difaqihkan di dalam agama“, diriwayatkan oleh Ibnu Maajjah. Hadits-hadits tersebut secara jelas menunjukkan tentang keutamaan fiqh dan dorongan untuk mempelajarinya. Dan diriwayatkan dari Umar bin Khothob rodhiyallaahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “sungguh, wafatnya seribu hamba yang rajin sholat di malam hari dan puasa di siang hari lebih ringan dari wafatnya seseorang berakal yang mengetahui apa yang dihalalkan oleh Allah dan yang diharamnyaNya“, diriwayatkan oleh Ibnu Hanbal.