Doa dapat mengubah taqdir? Penjelasan syaikh Atha’ Abu Rasytah

Apakah doa dapat mengubah taqdir? Masalah ini dijelaskan oleh Asy-Syaikh Atha’ Abu Rasytah dalam kitab beliau, at-taisiir fii Ushuulit tafsiir halaman 226 hingga 227, tatkala beliau sampai pada tafsir surat al Baqarah ayat 186. Beliau menyatakan:

“Terkabulkannya doa tidak berarti adanya perubahan taqdir atau perubahan tulisan di dalam al-lauhul Mahfudh atau perubahan di dalam ilmu Allah. Dengan kata lain, terkabulnya doa tidak berarti bahwa (sebelumnya) Allah tidak mengetahui akan doa si hamba  berikut pengabulanNya terhadap doa tersebut, sedemikian sehingga doa itu tidak termaktub di dalam al-Lauhul Mahfudh.

Oleh karena itu, tidak dapat ditanyakan “bagaimana bisa Allah mengabulkan doa hambaNya sementara taqdir Allah telah sempurna dan penulisan di al-Lauhul Mahfudh telah selesai?” Tidak dapat dikatakan demikian karena doa dan pengabulannya bukanlah suatu hal yang baru yang tidak diketahui oleh Allah, namun duduk perkaranya adalah sebagai beriikut:

Sesungguhnya qadar adalah ilmu Allah, yaitu penulisan di dalam al-Lauhul Mahfudh. Segala sesuatu yang ada telah tertulis di dalamnya sejak azali. Dengan begitu, Allah sudah tahu bahwa si fulan akan berdoa kepadaNya, jika Allah telah menentukan akan mengabulkan doanya itu, maka ditulislah bahwa si fulan akan berdoa meminta ini dan itu, dan bahwasanya dia akan mendapatkan ini dan itu. Dengan demikian, doa bukanlah suatu hal yang baru yang tidak diketahui oleh ilmu Allah dan tidak tertulis di al-Lauhul Mahfudh, demikian pula dengan terkabulkannya doa. Akan tetapi, segala sesuatu yang ada telah terdaftar di dalam al-Lauhul Mahfudh, karena Allah mengetahui yang gaib, mengetahui apa yang dilakukan oleh hambaNya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan segala sesuatu sebelumnya telah tertulis sejak masa azali. Dengan demikian doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba telah diketahui oleh Allah dan telah tercatat sebagaimana adanya. Demikian halnya dengan pengabulannya, sesuai kehendak Allah, ia pun tertulis sejak azali.

Dengan demikian, doa dan pengabulannya tidak berada di luar pengetahuan Allah, akan tetapi, keduanya terdaftar di dalam al-Lauhul Mahfudh persis sebagaimana keduanya itu akan terjadi. Karena Allah adalah Dzat yang mengetahui hal yang gaib dan yang tampak, “tidak ada sebutir atom pun yang ada dilangit maupun di bumi yang tersembunyi dariNya.”[1]


 { لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ} [سبأ: 3][1]